Followers

Jumat, 31 Agustus 2012

The Silent of Office



Ini hari ke 83 Luki bekerja di kantor itu. Ia masih bingung dengan apa yang teman-temannya bicarakan. Kepergian Fanesa, sahabat barunya, terlalu mendadak dan tidak jelas kemana. Teman sebelah mejanya berkata, Fanesa mungkin sudah kembali ke rumah ibunya di Vietnam. Tapi sebagian yang lain berkata… Fanesa selalu duduk di mejanya, padahal dia tidak lagi di kantor itu atau mungkin ia sudah pergi di telan bumi.

***
 
“ah, kenapa lagi ini?!” Luki mengeluh keras
“kenapa lagi ki? Programnya eror lagi? Kok gitu terus ya, mungkin harus di upgrade lagi” Fanesa bicara sambil terus menatap kerjaannya di layar komputer.
“tau nih, stres. Aku udah 75% ngegambar, dan hari ini harus approve, dan ternyata…error lagi. Sial!!”
“hemmh, sabar”
“aargh, kyaknya besok aku bakal komplen sama pa Joy, cape banget kalo tiap hari kayak gini terus” Luki tampak stres, rambutnya di koyak-koyak sampai sedikit berantakan.

Hari itu Luki sudah mengeluh yang ke tiga kalinya. Setelah sebelumnya ia mendapat teguran dari Project Manager dengan keterlambatan gambar yang ia buat. Fanessa hanya tersenyum tiap kali mendengar Luki mengeluh dan komat-kamit sendiri. Dan teman-teman kerja yang lain tidak mempedulikan apa yang terjadi pada Luki.

Adzan maghrib terdengar samar-samar dari mesjid yang jaraknya cukup jauh dari lokasi kantor itu. Pak Warno pernah berkata, “Ojo sekali-sekali koe  nyetel musik ne’ wes krungu adzan maghrib, percoyo karo aku! (jangan sekali-sekali kamu memainkan musik jika sudah terdengar adzan maghrib, percaya sama saya!) “. Luki pun masih sangat ingat dengan ucapan pak Warno. Ia bahkan memperingati Fanesa untuk mematikan ipod nya yang sejak siang headsetnya terus menempel di telinganya. Sebenarnya Fanesa sedikit kesal dengan sikap Luki yang setiap hari terus memperingati dia untuk berhenti mendengarkan musik. Tapi ia pura-pura setuju karena ia tau, Luki adalah satu-satunya teman kantor yang mau menjadi sahabatnya.

Entah apa maksud dari ucapan pak Warno itu. Ia hanya bilang “Pamali”. Dan kebetulan sekali Luki yang merupakan keturunan jawa, mempercayai segala hal yang berbau pamali atau sakral lainnya. Kantor itu memang sudah banyak dibicarakan orang. Lokasinya yang berada di pinggiran jalan tol, dan dibelakangnya terdapat lahan kosong berumput yang cukup luas, terbilang cukup sepi untuk ukuran sebuah kantor besar. Sudah 73 hari Luki bekerja di tempat itu. Dan ia sudah tau, ada sesuatu yang selalu membuatnya berbalik tiba-tiba. Sesuatu yang enggan ia sebut saat berada di kantor selepas adzan maghrib. Dan ia bahkan, selalu pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Akibat program komputernya yang error, akhirnya Luki terpaksa harus mengulang semua pekerjaannya malam itu. Fanesa yang merasa kasihan melihat sahabatnya stres, akhirnya memutuskan untuk ikut lembur bersama Luki. 

“thanks ya Nes, kamu mau nemenin aku”
“iya ngga papa, lagian kemaren-kemaren juga kamu yang suka nemenin aku lembur kan”

Luki tersenyum melihat Fanesa yang lebih dulu tersenyum bicara dengannya. Malam itu mereka hanya berempat saja di kantor besar itu, mereka, seorang security yang berjaga di bawah, dan seorang office boy yang jarang sekali nampak di ruang kerja. 

Sepi, hanya itu yang tergambarkan. Tak ada musik, karena Luki masih mempercayai kata Pamali. Fanesa hanya asik sendiri dengan games angry bird di komputernya. Dan Luki, sibuk dengan pekerjaannya. Seperti tak ada suara selain suara mouse, keyboard dan suara nafas mereka.Tapi kemudian, terdengar suara telepon kantor berdering memecah keheningan kantor itu. 

‘KRIIIIIING….KRIIIIIIIING…’

“duh, sapa sih ni, udah malem juga masih aja nelpon kantor” gerutu Luki sambil beranjak dari kursinya untuk menghampiri telepon yang terus berteriak di tempatnya.
“udah, angkat aja sana!” seru Fanesa
Kemudaian Luki mengaangkat telepon itu “halloo..selamat malam”
‘tuuuuuttt….ciittt’
Tak ada jawaban, hanya suara mesin yang terdengar.
“halo..halo..halo…” luki berkali-kali mengucapkan halo, tapi tak di jawab.
“siapa ki?”
“ngga tau, ngga ada jawaban. Cuman ada suara tuuuuuttt terus ciiiiyyyytt”
“ooh, itu fax ki. Kamu tutup teleponnya sekarang, terus teken tombol biru yang deket tanda bintang!”
“ooohhh, iya iya. Siip” kemudian Luki mencoba petunjuk yang di berukan Fanesa. “ hemmh, aku pikir telepon misterius, haha” Luki tertawa.
“ah kamu ni, ada-ada aja” Fanesa balas tertawa.

Kemudian Luki membiarkan mesin Fax beroperasi sendiri. Ia segera kembali duduk di mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Entah berapa lembar kertas yang keluar dari mesin fax. Luki dan Fanesa bahkan tak peduli dengan kertas-kertas itu. Mereka hanya fokus dengan layar komputernya masing-masing.

2jam berlalu mereka masih menjadi penghuni terakhir kantor itu. Sudah jam 23.45. Biasanya Fanesa sudah berada jauh di alam mimpi, di kamar kosannya. Tapi tidak dengan malam itu. Ia memang sudah sangat mengantuk sekali. Matanya merah dan sayu. Entah sudah berapa kali ia menutup mulutnya karena ia terus-terusan menguap.

“Ki, pengen pipis. Anterin yu..!” pinta Fanesa.
“Duh, tanggung nes, bentar lagi ya”
“emmhh..udah ngga kuat. Ayo lah..” Fanesa terus membujuk sambil memegang perutnya sambil menahan ingin buang air kecil.
“aduhh..seriusan, ini tanggung banget. Ntar keburu lupa lagi yang mau di gambarnya” Luki beralasan lagi.
“iihhh, Luki. Yaudah deh sendiri aja.hehe” Fanesa tersenyum kuda.
“yakin nih Nes, ga mau nunggu aku bentaran?” tanya Luki sambil membalikkan badannya melihat Fanesa yang berlari kecil menuju Toilet.
“Iyap..its oke maplen” jawab Fanesa terburu-buru sambil mengangkat jari jempolnya.

Akhirnya Luki membiarkan fanesa pergi sendirian ke toilet. Sebenarnya, Luki tidak ingin di biarkan sendiri saja di ruang kantor itu. Ya, sebelum-sebelumnya dia memang sudah beberapa kali merasakan hal-hal yang tidak wajar di kantor itu. Tapi ia selalu memegang pesan mendiang eyangnya untuk tidak pernah menceritakan segala hal yang tabu dan di luar nalar di tempat kejadian dari cerita itu. Hingga malam itu pun, ia masih terus menutup mulut.
‘brak’ suara buku terjatuh di meja Aldo. Mata Luki tajam-tajam mencari sumber suara itu. Ia hanya berdiri dan melihat dari tempatnya saja. Jantungnya masih biasa saja. Setelah melihat buku yang tergeletak di bawah depan meja Aldo, ia kemudian kembali duduk dan mengerjakan pekerjaannya itu. 

Sudah 15 menit lamanya Fanesa pergi ke toilet. Luki mulai merasakan ada yang tidak beres dengan Fanesa. Muncul kecemasan di dadanya. Hingga akhirnya ia berdiri dan memutuskan untuk melihat keadaan Fanesa di Toilet. Ia pun berjalan sedikit terburu-buru. Namun sesampainya ia berdiri di depan pintu, tiba-tiba ia teringat akan fax yang masuk tadi. Ia pun sedikit berbalik dan menghampiri lembaran-lembaran kertas yang masih menempel di mulut mesin fax. Saat ia membuka lembaran-lembaran kertas itu, rupanya itu hanya kertas kosong. Tak ada tulisan apapun. Baru sampai di 2 lembar kertas terakhir, ia menemukan sebuah tulisan merah. 

SEE YOU IN TOILET DEAR...

“arggh..” Luki mengerang. Ia baru tersadar, bahwa sebenarnya memang ada yang tidak beres. FANESA? TOILET? FAX ITU? 

***



Ya semuanya berkecamuk dalam otaknya. Tanpa pikir panjang ia lantas berlari menuju toilet wanita di ujung koridor kantor. Ia kemudian masuk tanpa permisi. 

“Nes…Fanes..kamu dimana Nes?” Luki memanggil-manggil Fanesa dengan sangat panik sambil terus mengetuk semua pintu toilet. Tapi rupanya tidak ada jawaban sama sekali. Ia pun membuka satu persatu pintu. Hingga akhirnya ia berhenti di pintu ke 6. Seperti terdengar suara air yang menetes perlahan. Lembut sekali. Luki terdiam dan mendekatkan telinganya ke arah daun pintu. Pelan sekali gerakannya. Sampai daun telinganya itu tepat menempel di daun pintu tiba-tiba ‘im so lonely broken angel..im so lonely…’ Luki terkejut bukan kepalang. Ternyata handphonenya berdering sangat kencang. Lantas kemudian cepat-cepat mengambil handphone di saku celananya itu. Dan ternyata itu telepon dari Fanesa.

“Halo Nes, kamu dimana?” Luki menjawab telepon dengan terengah-engah.
“Ki..” suara yang sangat pelan terdengar.
“Iya Nes, kamu dimana? Cepet jawab sekarang!!” Luki sedikit membentak. Alisnya meruncing.
“kiii...hhhhhh.” ‘krrsssskkkk…krrsskk…tuuuuttt..ciiyyyttt’ hanya terdengar suara pelan yang memanggil Luki, dengan suara nafas yang berat dan seperti suara telepon dengan sinyal yang buruk.
“Nes, please jawab Nes, kamu dimana?! Please serius buat kali ini!! FANESSS!!!!” emosi Luki memuncak. 
Jantungnya berdetak sangat kencang. Suhu tubuhnya menurun drastis. Dingin.
Luki semakin panik. Ia buru-buru keluar dari toilet perempuan. Matanya terus mencari keberadaan Fanesa. Dan ia baru tersadar satu hal. Perkataan pak Warno, dan ia baru saja melanggarnya. Nada dering ponselnya yang keras itu sudah memecah keheningan kantor itu, apalagi barusan di toilet. 

Luki lantas cepat-cepat berlari menuju ruang kerjanya. Ia mendapati ruang kerjanya itu sudah gelap. Sepertinya ada yang mematikan lampunya. Namun ada satu komputer yang menyala. Tapi itu bukan komputernya. Luki pelan-pelan mencari saklar untuk menyalakan lampu di ruangan itu. Perlahan sambil meraba-raba benda di depannya, dengan bantuan cahaya dari handphonenya yang redup. 

“aaauuuww..” Luki menjerit sakit. Kakinya menabrak sebuah kursi di samping kanannya. Baru kemudian ia kembali berjalan. Tangannya bergetar cukup hebat. Ya, rasa takutnya memang sudah tertabung sejak lama, dan  saat itu puncaknya. Karena ia baru saja melanggar kepercayaannya sendiri akan hal pamali, sehingga membuat hatinya bergetar takut.

Tangannya yang memegang handphone, sambil terus berjalan mencari saklar tiba-tiba gerakan tangannya itu melewati sebuah sisi di samping kirinya. Sekilas terlihat seperti ada seseorang. Ia terkejut. Cepat-cepat melangkah mundur. Jantungnya semakin kencang. Tapi ia ingin sekali memastikan siapa orang di kirinya itu. Pelan-pelan ia mengarahkan cahaya handphonenya ke arah orang yang tadi di lihatnya..pelan..pelan..dan semakin dekat. Dan tepat di sisi yang persis…….ternyata tidak ada siapa-siapa.

‘ceklek’ lampu menyala. Ternyata punggung Luki tidak sengaja menekan saklar yang menempel di dinding belakangnya. Ia perhatikan setiap sudut ruangan untuk memastikan kalau semuanya aman. Dan matanya tertuju pada sebuah komputer temannya di pojok ruangan yang tiba-tiba menyala. Padahal komputer Luki dan Fanesa yang tadi masih menyala saja kini sudah mati. Luki berjalan ke arah komputer yang menyala itu. Tak ada hal aneh. Ia hanya melihat sebuah foto. Sepertinya Luki mengenali lokasi foto itu. Ya, itu foto di kantornya. Foto di ruang meeting. Dan ada satu benda yang aneh di foto itu. Sebuah lilin di tengah meja meeting yang sudah setengah mencair dalam keadaan menyala. Luki keheranan. Dalam hati ia berkata ‘loh, bukannya di ruang meeting tidak boleh membawa benda-benda yang berhubungan dengan benda tajam dan api ya, lagian untuk apa lilin itu. Untuk apa Dea menyimpan foto seperti ini’ Luki kemudian mengabaikan apa yang baru dilihatnya itu. Baru 3 langkah ia berjalan meninggalkan komputer. Rupanya foto lilin di atas meja itu tiba-tiba padam dengan sendirinya, padahal itu adalah sebuah foto yang tidak mungkin dpat berubah seperti itu. Dan Luki tidak melihatnya.

Luki duduk di mejanya. Ia lantas mengambil tas dan ingin cepat-cepat keluar dari ruang kerja dan meninggalkan kantor itu. Namun saat ia hendak keluar, ruapanya pintu ruang kerjanya itu terkunci secara otomatis. Ia melihat dari dalam ruang kerja yang hanya dilapisi kaca itu tak ada satu orang pun di luar ruangan yang dapat ia panggil untuk menolongnya. Akhirnya Luki ingat sesuatu, security. Ya ia tau bahwa di kantor itu ada seorang security yang bertugas untuk jaga malam di bawah. Ia lantas segera berusaha menelponnya.

‘tuuuuuuutttt……tuuuuuuutt’ 

telepon dari Luki itu tak kunjung di angkat oleh security di bawah. Ternyata di bawah sana, security tengah asik mendengar alunan musik dangdut dari radio yang baru saja dibelinya. Luki kecewa. Kemudian ia mencari cara lain agar ia dapat keluar dari ruang kerjanya itu. Ia membuka laci meja kerja Fanesa, berharap menemukan nomor sandi pintu di buku catatan Fanesa.
“arggh..ini dia” sebuah halaman di buku kecil Fanesa terbuka, dan bertuliskan daftar nomor sandi, termasuk nomor sandi pintu ruang kerja. Luki pun cepat cepat memasukkan nomor sandi dengan sangat panik dan terburu-buru. Tangannya seperti kesusahan saat menekan tombol sandi itu, tapi akhirnya pintu itu terbuka.

Tanpa pikir panjang Luki berlari. Tapi dari kejauhan ia mendengar komputer Dea yang baru saja ia lihat tadi, tiba-tiba ada suara musik classic era jaman Belanda. Tapi Luki tidak mau kembali. Kuduknya sudah terlalu merinding. Saat ia mendekati Lift, rupanya Lift sudah tidak beroperasi di jam malam. Ia pun cepat cepat  berlari menuju tangga. Saat ia berlari tiba-tiba Fanesa memanggil dari ujung lorong di belakangnya. 

“Luki..” panggilan yang cukup keras dan menggema
Luki berhenti tiba-tiba. Ia spontan membalikkan pandangannya. “Fanes, kamu dari mana? Ayo kita pulang!” ada sedikit perasaan lega didanya setelah melihat wajah Fanes.
“aku pengen balik ke ruangan kita, ada sesuatu yang tertinggal. Mau antar?” Jawab Fanes lembut.
“oke!” luki tak menolak sedikitpun. Ia berjalan di belakang Fanes. Tak ada perbincangan diantara keduanya. Namun tanpa diduga, Fanes bernyanyi lembut dalam perjalannannya itu menuju ruang kerja. Sebuah lagu barat kanak-kanak, Twinkle twinkle little star. Luki terkejut. Luki yang masih percaya dengan ucapan pa Warno spontan langsung memperingati Fanes untuk Diam.
“ssssttt…Nes, jangan nyanyi. Kamu ingat kan!! Ssstt..”
Fanes tak  menjawab. Tapi ia menghentikan nyanyiannya itu. Mendadak Fanes berhenti di depan pintu ruang meeting. Fanes tegak berdiri menghadap pintu itu, melihat dalamnya dari kaca di sela pintu.
“Bisa kamu ambilkan aku map yang tertinggal di dalam, sementara aku ke ruang kerja kita?” pinta Fanesa tanpa melihat wajah Luki.
“hah? Kenapa harus aku sendiri? Kenapa tidak kita masuk bersama-sama?” tanya Luki sedikit protes.
“bukankan kamu ingin kita cepat-cepat keluar dari kantor ini, iya kan?
“ehmmm, baiklah. Nanti aku menyusul ke ruang kerja kita” Luki menyerah dan setuju.
“tunggu saja di sini, aku akan segera kembali” jawab Fanesa sambil terus berlalu.

Akhirnya Luki masuk ke dalam ruang meeting yang gelap itu. Lagi-lagi ia harus menghadapi kegelapan. Sebenarnya ia benci harus mengambil map yang Fanesa maksud di dalam situ. Pikiran Luki teringat akan sebuah hal. Komputer Dea yang menyala di ruang kerja. Ya, foto itu. Di sini, di tempat gelap yang ia masuki sekarang. Ia cepat-cepat menyalakan saklar lampu di samping kanan pintu. Hingga akhirnya seluruh ruang meeting terlihat jelas di matanya. Lilin itu, ternyata masih ada di atas meja. Masih menyala. Padahal tadi saat lampu mati, tak ada sumber cahaya sama sekali, lalu lilin itu?

Luki cepat-cepat menggapai map biru di pinggir meja. Dan tiba-tiba lampu di ruang itu kembali mati dengan sedirinya. Baru kali itu lilin yang sebelumnya tak nampak di kegelapan kini menyala cukup terang. Sinar jingga itu, menerangi separuh bagian ruangan. 

“apalagi ini?!” Luki bicara sendiri. Ia kemudaian membalikkan badannya untuk segera keluar dari ruang itu. Namun ia terkejut bukan kepalang saat ia mendapati pintu yang sebelumnya ada kini hilang. Ia meraba-raba bagian tembok ruang meeting tapi ternyata pintu itu benar-benar hilang. Dan saat ia berbalik badan melihat lilin dan sebrang meja sana. Ada seseorang di depannya. Seperti sesosok pria yang sedang tertidur di meja meeting. Tangannya tertumpu pada meja, dan wajahnya bersembunyi di pelukan tangan.
“Hey, siapa kamu?!” Luki bertanya sambil menggertak.
Pria di depannya tak menjawab. Pria itu masih tertidur dengan posisi yang sama.
“Hey, ngga usah pura-pura tidur. Kamu mau apa?” Luki kembali menggertak, pura-puramenjadi seorang kesatria pemberani.

Pria misterius itu bergerak. Perlahan-lahan pria itu mengangkat kepalanya, pelan-pelan sekali. Hingga akhirnya terlihat jelas sesosok wajah yang sangat mengerikan.
Luki berteriak sangat keras. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan pria misterius itu berkata, “aku mau kamu”
Seketika itu juga Luki yang ketakutan melemparkan barang-barang yang ada di ruang meeting ke arah pria itu. Apapun yang ada di dekatnya. Sampai akhirnya ia lemas dan tangannya menyentuh dinding di belakangnya.
“hah, pintu..” ya, ia kambali menemukan pintu yang barusan hilang. Cepat-cepat ia lari dari ruangan itu, dan pergi manuju ruang kerja untuk menjemput Fanesa.
Di tengah perjalanan ia berlari, Luki mendengar Fanesa memanggilnya.
“Luki, sini!” panggil Fanesa dari ujung tangga menuju lantai bawah.
“hah, Nes.” Tanpa basa-basi Luki lantas berlari sambil menggenggam tangan Fanesa yang ikut berlari di belakangnya. Nafas Luki sangat keras terdengar. Dan sebuah pisau terjatuh dari lantai atas, hampir saja mengenai kepala Luki.
“aarrggh..sial” Luki terkaget melihat pisau itu. Kepalanya mencari-cari darimana pisau itu berasal. Fanesa tak berkomentar apa-apa. Ia hanya diam. “woy, siapa sih? Jangan ganggu kita!’ bentak Luki dan kembali berlari.  

Fanesa kembali bernyanyi lagu twinkle-twinkle little star. Luki sekali menggerutu. Tapi Fanesa tak menghiraukan gertakan temannya itu. Fanesa malah bernyanyi semakin keras. Membuat Luki kesal dan marah. “Nes, kamu tuh sengaja banget ya nyanyi-nyanyi gitu. Mau kamu apa?”
Fanesa memandangi wajah Luki yang marah. Jarinya didekatkan pada wajah Luki. Telunjuknya bergerak dari atas kening Luki, bergerak turun perlahan, ke mata, hidung, bibir, dagu, hingga telapak tangan Fanesa seutuhnya menempel di pipi kanan Luki. Dan ia berkata “aku mau kamu”.
“Halo Nes..hey” Luki seperti heran dan tidak percaya. Ia mencoba menyadarkan Fanesa takutnya Fanesa sedang tertidur sambil berdiri. Tapi apa yang Luki lihat di belakang Fanesa, sesosok pria yang ia lihat di ruang meeting sebelumnya. Berdiri menghampiri dengan sebilah celurit di tangannya.
“awas nesss!!!” Luki memperingati Fanesa sambil memeluknya. Luki yang terkejut akhirnya menarik Fanesa pergi dan segera berlari. Di tangga itu, berkali-kali pria misterius itu mencoba mengayunkan celurit di tangannya. Tapi Luki selalu berhasil menyelamatkan diri dan menjaga Fanesa. Sampai akhirnya ia tiba di lantai satu kantor itu. Ia sempat bingung dimana pintu keluar gedung utama. Saking paniknya ia mendadak lupa. Dan tangan Fanesa dibiarkan terlepas. Luki berlari kesana kemari mencari pintu untuk keluar. Sampai akhirnya ia keluar dan menabrak seorang security yang tengah sedang berjalan membawa secangkir kopi.
“MasyaAlloh pa, kopi saya eeehhh kopi saya” seru seorang security.
“aduh maaf pa, maaf. Saya tadi…itu tadiii…” Luki bicara dengan sangat terbata-bata.
“eh..eh..eh…santai dulu pak. Cerita pelan-pelan” bujuk security menenangkan.
“aahhh, panjang ceritanya. Eh..bentar-bentar. Temen saya mana ya pa? tadi perasaan bareng sama saya. Aduh jangan-jangan ketinggalan di dalem lagi” Luki menepuk keningnya menyesali kalau Fanesa tidak ada disampingnya.
“ Mba Fanesa ya pa, hoalah..mba Nesa udah pulang kali pa, dari 2 jam yang lalu. Tadi dia bilang, titip Pa Luki gitu katanya. Hahaha, tumben banget mba Nesa bilang gitu. Terus dia pergi, ngga tau deh naik apa sudah malam begini.
“hah, ngga usah bercanda deh pa!” Luki tidak yakin dengan ucapan security.
“yaelah pa.. untuk apa juga saya bohong. Yasudah pa, selamat istirahat, hati-hati pulangnya. Udah malem ngga usah ngebut-ngebut. Wasalamualaikum saya balik ke pos dulu pa” bapak security meninggalkan Luki yang masih berdiri tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dengannya barusan. Mesin fax, toilet, fanesa, komputer Dea, foto ruang meeting, lilin, pria misterius yang mencoba membunuhnya, ya semuanya di luar nalarnya. Antara percaya dan tak percaya. Anatara nyata dan tidak. Antara dunia manusia, dan dunia lain.

***

Rabu, 15 Agustus 2012

Erika, Cepat Bangun Ya (Peri Kertas Leviroz Part 6)

Biya dan Kian meluncur menuju sanggar dengan sangat terburu-buru. Sesampainya di sanggar, ternyata dugaan mereka benar, mereka sudah melewatkan seperempat acara awal karena kedatangan mereka yang sudah terlambat 1 jam lamanya. Kian sedikit kecewa, wajahnya kusut karena tidak bisa menyaksikan Rio, cowok impiannya bernyanyi di awal acara. Dan Biya, tergesa-gesa untuk bersiap-siap menjadi MC pengganti di tengah acara nanti.

“Wel, rundown acara buat gue mana?” tanya Biya sambil merapihkan kerudungnya yang terkoyak karena helm.
“itu, gue simpen di atas lemari piala. Oh ya Biy, tadi Rendra bilang, kalo udah selesai acara, lo tunggu dia di ruang meeting. Katanya ada hal penting” jawab Welly.
“hemmh? Mana sihh? Oohhh ini diaaa kertas nakal. Hah, tadi apaan? Rendra? Hal penting apaaan lagi dia tuh, tumben amat tuh si badung mau meeting ama gue. Kudu siap-siap penyumpel kuping aja nih buat denger ocehannya dia” Biya menggerutu sambil membaca kertas rundown acara.
“ahaha..ada-ada aja lo Biy, awas loh..ntar malah suka lagi. Hihi”
“sompral nih Welly, ah ga ngepren nih ah. Masa aja gue suka ama si badung. Udah nakal, playboy, geng motor pula….iiiihhh takuutt. Ngeri banget” Biya ngeri membayangkan sosok Rendra
“yaudah daripada lo ngebayangin Rendra, mending sana tuh ke stage. Bentar lagi giliran lo nge MC. Oke cantik..!” seru Welly sambil mencubit pipi Biya
“yuhuuuu…Sipirilllii…babay mami Welly, muah”

Akhirnya Biya bersiap menuju stage untuk menjadi MC. Dan Yang lainnya, ada yang sibuk dengan persiapannya masing-masing, atau ada pula yang sibuk melayani para penikmat seni yang datang silih berganti. Tapi tidak dengan Kian, ia malah asik sendiri dengan terus memata-matai idolanya dengan sesekali mengambil gambar layaknya seorang paparazy. Kian telah kecanduan si penyanyi rambut jagung, Tomy, idolanya itu. Dan KIan tidak akan berhenti sebelum ia menemukan sekantung makanan.

Biya tampak asik bercuap-cuap di depan khalayak dgn suasana acara yang cukup ramai juga menghibur. Dan ia sama sekali tidak ingat dengan segala kegalauan, tugas kuliah, apalagi handphone nya yang tertinggal di kostan. Padahal selama Handphone itu tertinggal, sudah 10 kali Dyos menelepon dan 5 kali ia mengirimkan sms ke nomornya. Dyos cemas, terburu-buru, dan ingin segera telponnya itu di jawab oleh Biya. Sepertinya ada hal penting yang ingin Dyos bicarakan. Tapi sayang, telepon itu hanya membisu di kamar yang sedang di tinggal penghuninya.

Sudah malam hari, tetapi Biya dan Kian masih terdampar di sanggar bersama kerumunan orang-orang dan hasil karya seni yang telah usai di pamerkan dan di pentaskan. Biya sudah cukup kelelahan setelah ia terus bercuap-cuap di depan khalayak dengan waktu yang melebihi jatah ia menjadi MC di stage. Dan saat itu, ia baru tersadar bahwa sedari tadi dia telah melupakan benda yang sangat penting untuknya, handphone. Ada perasaan tidak enak dengan handphone nya itu. Biya ingin segera pulang untuk mengobati perasaannya tersebut. 

Beberapa kali ia melihat jam strawberry di tangannya. Matanya sudah gelisah. Ia ingin pulang. Tapi tiba-tiba, Biya baru ingat dengan janjinya untuk menemui Rendra setelah selesai acara di ruang meeting. Alhasil, rencananya untuk segera pulang menjadi tertunda. Dan, ada satu hal lagi yang membuatnya ingin tetap bertahan di tempat itu, sesuatu yang ia tunggu sejak sore, ya…satu hal yang tak ingin ia lewatkan malam itu, 1box makanan untuk memadamkan perutnya yang terus berteriak sedari sore.

***

Dyos hanya berdiri mematung di depan rumahnya. Bahkan ia bingung harus bagaimana dan harus bicara pada siapa. Hatinya berkecamuk. Ada perasaan gundah, ingin segera bercerita pada sesorang, khususnya Biya. Tapi ternyata..tidak bisa. 

Berkali-kali Dyos memandangi sekeliling rumahnya yang besar itu. Melihat satu persatu celah dan sudutnya. Seakan ingin mengenalnya lebih dekat, dan bicara lebih hangat. Dyos tersenyum melihat sebuah ayunan di pojok belakang rumahnya. Tapi kemudian ia meneteskan airmata. Ia terduduk di tanah berumput. Airmatanya keluar semakin deras. 

Baru kali ini ia menangis begitu terisak. Seorang Dyos yang kuat dan tegar, kini seketika melemah dan menjadi sangat rapuh. Kemudian ia berdiri dan menggapai besi ayunan di depannya. Ia dorong pelan-pelan, seperti sedang bermain dengan sesorang. Namun tiba-tiba handphone di sakunya berdering, dan memecah ke senduan malam nya itu….

“ya …ma” Dyos menjawab pelan, sambil menutupi bekas tangisnya di tenggorokan.
“ Ka, Bisa ke sini kan? Ini ade pingin di temenin kaka katanya. Bisa kesini sekarang kan?” pinta ibu, sendu sekali suaranya.
“Ya ma, bilang sama ade, ka Dyos kesana sekarang” jawab Dyos tersenyum dengan perasaan yang dalam.
Akhirnya Dyos segera meninggalkan rumah nya itu, dan pergi menuju tempat dimana ibu dan adiknya berada sekarang. Ya, dia ingin menemani adiknya.

***

Biya telah tiba di kostannya yang mungil. Baru saja masuk, ia langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur bergambar hello kitty miliknya. Ia menghela nafas panjang beberapa kali. Wajahnya terlihat sangat lelah dan mengantuk. Teringat akan pembicaraannya dengan Rendra tadi sebelum ia pulang. Sedikit rasa tidak menyangka. Rendra yang selama ini ia panggil si Badung dan sering bertengkar kecil dengannya, tiba-tiba bisa bersikap baik dan lembut pada nya. dan apalagi, Rendra mengajak Biya untuk bekerjasama menjadi satu tim, yang hanya mereka berdua saja dalam painting art competition yang akan dilaksanakan bulan ini.

Pikiran Biya terpecah. Dan kemudian, tangan kirinya menyentuh sebuah benda kecil di atas kasur. Ya, itu handphonenya. Ia kemudian buru-buru menggapainya dan melihat layarnya tajam-tajam. Sampai ia temukan ada beberapa misscall dan sms dari Dyos dan teman-temannya yang lain. Tapi yang paling ingin ia lihat adalah sms dari kekasihnya itu. Buru-buru ia membuka salah satu sms dari Dyos dan membacanya. Dan masih banyak lagi sms Dyos yang lainnya.

Biya, dmna? 
aku butuh ketemu kamu, ada yang pengen aku ceritain sekarang. penting

“aarrggh..kenapa gue td ngga bawa handphone sih ah. Aduh..Dyos banyak banget sms nya, kayaknya penting banget” Biya menyesali handphonenya yang tertinggal itu. Dan kemudian segera ia menelepon nomor Dyos. Tapi apa yang terjadi…
“Telepon yang anda hubungi, sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Silahkan Tinggalkan pesan…” 
Telepon biya disambut oleh suara operator yang biasa terdengar jika nomor yang di tuju tidak dapat di hubungi. Biya kecewa. Perasaannya sangat kacau. Ada rasa merasa bersalah dan penasaran yang berputar-putar di dadanya. Dan kemudian ia mencoba menghubungi telepon rumah Dyos walaupun itu sudah pukul 12 malam, ia memberanikan diri untuk menelepon, tapi ternyata tidak ada yang mengangkat atau menjawab panggilannya itu. Pertanda penghuni rumah Dyos sedng terlelap tidur, atau memang sedang ditinggal pergi oleh penghuninya.

***

Dyos berjalan dengan pikiran dan hatinya yang berat. Memikirkan berbagai hal. Ya, ia tau, saat itu hanya adiknya yang ia tuju. Erika, gadis kecil berumur 11 tahun, adik satu-satunya yang paling ia sayangi. Tak pernah terbayang dalam hatinya semua ini bisa ia alami. Padahal, yang ia tau, kisah seperti ini pernah ia tonton dalam FTV.
‘kreeekk’ suara pintu terbuka pelan-pelan.
“Ka…” ibu tiba-tiba memeluk Dyos yang baru saja datang sambil menangis. Dan mereka terdiam beberapa detik bersama airmata. Tapi Dyos mencoba untuk terlihat tegar di depan ibunya.
“ hemmhh…semua bakal baik-baik aja mah” Dyos mencoba menguatkan ibunya. Pelukan itu, seolah ingin menggambarkan kesediahan diantara keduanya. Perasaan pilu yang sama-sama tertahan, dan sangat mendalam.

Dyos melangkahkan kakinya menuju tempat adiknya berbaring. Ia duduk di sebuah kursi, tepat disisi kepala adiknya. Ia tatapi dalam-dalam wajah manis adiknya itu. Lalu tangan kanannya menggenggam tangan adiknya dengan lembut. Dan tangan kirinya mengelus perlahan rambut adiknya.ia terdiam beberapa lama. Tergambar jelas semua yang baru saja terjadi dengannya dan keluarganya. Kemudian, Dyos berbisik pelan di telinga adiknya yang sedang terpejam. 

“De, kemaren kaka liat di toko pak Budhi, ada dua kucing persia yang lucu sekali. Ade pasti suka. Tadinya kaka mau beli saat itu juga. Tapi kaka pengen ade yang pilih sendiri, kucing mana yang ade suka. Nanti kalau ade udah bangun, kita kesana sama-sama ya”  Dyos kembali meneteskan airmata.

Ibu tak kuasa melihat Dyos bicara dengan adiknya. Seketika itu juga Ibu langsung meninggalkan ruangan sambil menutup sebagian wajahnya yang hendak tumpah airmata.

“De, inget ga waktu dulu kita suka mancing di kolamnya bah Abul. Walaupun kita jarang dapet ikan, tapi abah suka ngajak kita makan ikan bakar di warungnya. Hehe..seru ya de. Kaka pengen main sama dede. Apapun yang dede mau, dimana pun. Oh ya, dulu ade pernah bilang, pingin main ke kebun binatang kan? Nanti kita kesana ya. Kaka janji, kaka bakal bawa ade main sepuasnya sama ibu ke kebun binatang, tangkuban perahu, kawah putih. Tapi ade harus janji sama kaka. Ade jangan lama-lama tidurnya ya. Cepet bangun ya sayang” 

Dyos mengecup kening adik kecilnya itu. Tapi Erika, tak brgerak sama sekali. Wajah lugu Erika begitu sunyi. Terhalang selang oksigen yang di sambungkan melalui saluran pernafasannya. Tangan mungilnya di paksa untuk menahan tusukan jarum infus. Tapi ia tetap cantik. Seperti putri tidur mungil yang sedang tertidur beberapa lama. Tapi ini bukan di hutan yang indah, melainkan di ruang ICU rumah sakit yang sunyi. Erika sedang tertidur. Tapi entah kapan ia akan terbangun

Jumat, 10 Agustus 2012

Kenapa Harus Mehong??

Si Mehong?
Apa sih arti mehong?

Dalam bahasa sunda mehong itu adalah angus yang warnanya item, yang biasanya ada di bujur panci atau bujur katel, bagian dasar alat masak yang kena api kompor secara face to face, atau juga mehong ini adalah angus item yang berasal dari hasil pembakaran terhadap suatu benda padat yang nimbulin noda berwarna item. Tapi klo kita uraikan kata mehong ini Me- berarti menawan dan –hong itu bohong. Jadi mehong itu kebohongan yang menawan. Hihi..ngga deng, bcanda gue.

Ngga sedikit dari pembaca atau temen-temen yang ngga tau, kenapa kok gue bisa dianggil mehong?, sampe akhirnya nama mehong ini berimbas sama nama-nama akun gue di dunia maya. Misalnya dengan blog ini yang punya URL intanmehong.blogspot.com   , ada juga alamat URL tumblr gue intanmehong.tumblr.com , trus nasib twitter gue yg nicknya @si_mehong , akun soundcloud gue juga pake nick si mehong dan fanpage gue di FB si mehong , and sebenernya masih banyak lg akun aplikasi gue di dunia maya yg pake nick si mehong ini. 

Ada diantara temen-temen yang ngira kalo mehong ini diambil gara-gara gue suka kucing, jadi dimirip-miripin ama suaranya kucing. ‘MEEEHHOOOOONG’. Hadaaah itu sih meong kaliiii!!!!. Ada juga yang ngira kalo sebutan mehong gara-gara gue yang berasal dari ortu yang dagang sate, hobi banget mainin atau makanin areng, jadi muka gue suka jadi cemang cemong penuh mehong areng. Heemmhh ngga segitunya juga kali.

Berbagai spekulasi bermunculan timbul tenggelam. Alesan ini itu jadi bahan pertanyaan orang-orang. Klo yang udah tau sih cuman bisa diem dan senyum aja. Tapi bagi yang mereka yang belum tau ada yang cuek tapi ada pula yang penasaran dan pengen tau (kepo mode-on). Dan apa yang harus gue lakuin?? Apa harus,  gue jawab?? (ehhhhmmmm….kasiiiiih taaaaauuuu nggaaaa yaaaaaah..??)
Mehong, ayo kasih tau gue!
Kaci tau donk, kacih tau donks kaka..
*berpikir*
Jangan di rahasiain lah, kasih tau aja napa?!
*garuk-garuk kumis*
Mehong, lu tuh ya. Knp sih ga mau ksh tau?! Kita musuhan!!
Oke..oke..okee. gue bakal kasih tau sekarang. Alesan kenapa gue bisa di panggil si mehong, alesan napa nama akun di jejaring sosial gue mehong

kenapa harus mehong sih?!!!!

Pernah ada yang nanya, kok dipanggil mehong sih, padahal ngga item2 banget ah kulitnya. Hemmhh belom tau aja nih orang dulu se hitem dan se eksotis apa gue. Coba lo bayangin. Jika ada dua orang, yang satu putih banget, dan yang satu kulit sawo mateng. Alhasil, dengan otomatis si kulit putih bakal bilang kalo yg satunya lagi item dong. Begitu juga dengan gue.hehe. tapi biar item, gue tuh eksotis loh, kayak rihana (ngarep). 

Lo semua pasti pernah dan punya nama panggilan kesayangan dong yah. Seperti misalnya kucing lo yang lo syg, ngga lo panggil “kucing…puss.sini kucing..!!” gtu kan? Mungkin lo bakal mangil dia dengan nama kesayangan “komeng, sini komeng..pusss syg”. Itu misalnya. Atau seorang ibu yang manggil anaknya dengan sebutan kaka, atau dede..padahal nama mereka bukan kaka atau dede kan. Nah sama halnya dengan gue.  Sebutan mehong ini adalah sebutan yang dikasih ama temen cowo terdekat gue dulu waktu jaman kuliah tingkat satu. Berhubung dia tergolong aliran kulit putih, makanya doi dengan leluasa bisa manggil gue mehong yang kulitnya hitam eksotis (eeeaaaaa…). 

Gue ngga merasa tersinggung. Karena emang gue ngerasa item dan sebutan mehong itu jadi panggilan kesayangan akrab dia ke gue (uppss..). Gara-gara dia sering nyebut itu di depan temen-temen, alhasil banyak temen- temen yang ikut-ikutan manggil gue mehong. Hdeeeuuhh..ampe lama-lama gue enjoy n ngerasa ni nama oke juga, dan gue prediksi bisa jadi nama spektakuler di tahun 2015 (lebay geellaaaaa).

Nah, jadi itu sebenernya alesan kenapa gue sekarang biasa di panggil mehong dan akun gue di jejaring sosial banyak pake nama mehong ini. hihii..Dan gue ngucapin banyak-banyak terimakasih buat bung jarwo yang udah ngasih sebutan ini buat gue jaman dulu.makasih udah kepikiran buat nyebut gue mehong, untung aja mehong, bukan korong. hahaha..makasih banyak mas bro. Gue rasa, ni nama jadi nama jagoan gue, nama hoki gue, yap Si  Mehong. Cewe hitam eksotis yang  merupakan seorang alien yang kini berkeliaran di bumi dan suka melongo dipinggir jalan, dan di takdirkan menjadi si mehong sejak di utus oleh bung jarwo, satria piningit.heiiyyyaahhh...

Kalo nama jagoan gue mehong, apa nama jagoan lo guys?

nyang lain niihh..