Followers

Kamis, 12 Januari 2012

Peri Kertas Leviroz Part 2

PART 2,

Bandung, Agustus 2004

Ruang kamar Biya dipenuhi suara berisik alarm yang sudah 20 menit yang lalu tak berhenti berdering dari ponselnya yang tersimpan disebelah bantal, dan tepatnya begitu dekat dengan telinganya. Tapi Biya tak kunjung beranjak bangun dan membuka mata.
Biya yang masih setengah terbangun, mendengar suara alarm itu seperti suara soundtrack pengiring kengantukkannya pagi itu. Biya membuka setengah matanya, mendengar alarm itu dan kemudian menarik selimut tebal yang turun tak menutupi tangannya kembali ke atas. Berulang-ulang seperti itu. Hingga akhirnya..

“Biyaaaa…heeyy, bangun woooyyy. Berisik banget sih alarm lo. Kedengeran ampe kamar-kamar yang lain tuh. Ayo-ayo bangun Biy. Udah jam setengah 6 niihh. Lo belum shubuh tuh. Ayo bangun pemalas!!!” Seru Kian dengan suaranya yang merusak kenikmatan tidur Biya. Dia sahabat Biya yang kamar kostannya bersebelahan dengan kamarnya.
“Aduhh..Kian, masih ngantuk” Biya hanya sebentar membuka mata, dan merubah posisi tidur.
“iihh, gila lo ya. Tuh Malaikat udah mau nutup daftar orang-orang yang sholat shubuh hari ini. Katanya pintu sorga udah mau ditutup. Gue ga mau tau ya, kalo entar gue masuk surge duluan dan ngedadahin Lo dari dalem, pokonya jangan panggil-panggil gue pas gue lagi di surga nanti” Kian ngancem ama cerita yang biasa mereka sebut-sebut setiap waktu. Dan memang kalimat-kalimat itu membuat Biya dan Kian selalu bersemangat sholat.
“iihh, ogah deh gue cuman liat lo dari luar gerbang surga. Malaikat, tunggu bentar yah. Aku mau ke kamar mandi, wudlhu dulu bentar” Akhirnya Biya buru-buru beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dan Kian hanya tertawa melihatnya berlalu.

Dia Kian sahabat Biya sejak SMP. Mereka memang memiliki latar belakang yang berbeda. Kian berasal dari keluarga berkecukupan dari kota Jakarta. Ayahnya seorang Wirausaha yang kini tengah mengembangkan bisnis makanan siap saji ala Jepang, dan sudah memiliki puluhan cabang di beberapa kota di pulau Jawa.
Sementara ibunya adalah seorang designer handal yang memiliki beberapa boutique pribadi di Bandung. Kian bukan anak tunggal, ia memiliki adik yang kini duduk di bangku SMA.
Adiknya bernama Reyfan. Tapi orang-orang lebih sering memanggilnya Rey. Rey tinggal di Bandung bersama ibunya, dan bersekolah disana. Sementara ayah Kian tnggal di Jakarta dan sibuk dengan bisnisnya yang berpusat di daerah Jakarta, tepatnya di daerah Jakarta Selatan. Tapi anehnya, semenjak kuliah Kian tidak mau tinggal bersama Ibu ataupun adiknya. Ia memilih untuk kost dan hidup mandiri. Walaupun ia sebenarnya di tunjang dengan fasilitas yang dapat ia miliki semaunya, tapi ia lebih suka tinggal di kost-kostan biasa saja, dan berdekatan dengan Biya. Dia memang sahabat dekat Biya. Dan dia sudah menganggap Biya sebagai keluarganya sendiri.
“eehhh..bebek gembul udah solatnya?” Tanya Kian sembari mengejek.
“oohh, udah dong embe(1 ku sayang.hehe” Jawab Biya balas mengejek sambil tertawa kecil.
“ntar siang pulang kuliah jalan yu. Balik jam berapa lo ntar?” ajak Kian.
“hemmh, ntar deh gue tanya Dyos dulu. Kalo ga salah kemaren dia pengen ngajakin cari Ipad. Soalnya lusa dia mau balik lagi ke Surabaya” jawabku sambil membereskan selimut dan bantalku yang tak beraturan karena ulah ku yang tak berhenti bergerak saat tidur.
“yaaahhh, gitu ya. Hemmh, coba gue punya cowok ya. Pasti gue udah ngajakin cowok gue deh jalan-jalan” Kian kecewa. Wajahnya berlipat-lipat. Pertanda ia gundah. Kepalanya disandarkan pada kedua tangannya yang dilipat diatas meja komputer.
“ya salah lo sendiri sih, udah berapa cowok lo tolak dan tinggalin dengan alesan bilangnya ILLFEEL. Hemmh, kerasa kan lo sekarang. Ga punya cowok tuh ga asik. Hahahahaha” Biya tertawa.
“ah dasar lo. Tapi bener juga sih. Hihi” Kian menyadari kalau pendapat Biya benar.
Tiba-tiba ponsel Kian berbunyi. Dan tertulis nama Fika di layarnya. Kian terdiam beberapa lama. Membiarkan ponselnya terus-terusan berdering. Biya keheranan. Menyuruh Kian mengangkatnya. Tapi wajah Kian tampak malas dan tak suka dengan panggilan telfon dari Fika. Raut wajahnya mengerung. Tapi Biya terus mendesaknya untuk mengangkat dan bicara.
“Hey, ayo angkat” Biya berbisik. Hingga akhirnya ia beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Biya untuk mengangkat panggilan di ponselnya. Biya hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala melihat kian berlalu dari kamarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

nyang lain niihh..