Followers

Jumat, 10 Februari 2012

Peri Kertas Leviroz Part 3




 oh ya guys, gue baru inget kalo postingan peri kertas leviroz part 3 nya belum di publish, udah maen part 4 aja nih. hihi this is it, seri pendek part 3 nyah.

Sore
Bandung, Agustus 2004

Dyos disibukkan dengan kerjaannya yang seabreg. Ponselnya dibiarkan tergeletak di laci meja kerjanya. Berkali-kali ponsel itu berdering, tapi Dyos tak menghiraukannya. Pikirannya terfokus dengan pusaran lembaran-lembaran sketsa yang harus dia gambar ulang untuk bahan film animasinya kali ini. Jobnya kali ini memang cukup besar. Dan mungkin yang paling besar. Kontrak 50 episode yang nantinya akan di  siarkan di salah satu stasiun teve besar menjadikan Dyos merasa tertantang dan memiliki tanggung jawab baru. Dan pastinya, Dyos semakin tidak punya waktu untuk segala hal selain kerjaannya itu, termasuk Biya.
Sudah hampir 25 panggilan telepon dan 12 sms dari Biya berlalu begitu saja. Dyos lupa dengan janjinya untuk pergi sore itu dengan Biya. Job barunya itu menyita hampir seluruh perhatian dan konsentrasi Dyos. Sedangkan nun jauh disana, Biya mendadak menjadi galau. Perasaannya campur aduk. Antara kesal, sedih, khawatir, serba salah, teraduk dalam hatinya. Biya masih saja memandangi layar ponselnya sambil duduk di kursi beranda rumahnya. Disebelahnya hanya ada kucing yang sedari tadi tertidur di meja.’kemana Dyos? Kenapa telfonnya ga ada jawaban sama sekali?’ .
###
Wajah Biya semakin kusut. Sudah satu jam lebih dia terus menunggu. Hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk berhenti menunggu. Kemudian ia langsung menelepon Kian,
“Kian lo dimana sekarang?” Tanya Biya to the point.
“heh, salam dulu kek. Assalamualaikum bebeeeekk.hehehe..knapa lo nanya gue ada dimana? Lo lagi jalan ama Dyos kan?
“waalaikumsalam marmuuuutt..ga usah nanya-nanya gue dulu sekarang. Pokonya jawab gue, lo ada dimana sekarang? Gue mau nyulik lo”
“buset dah..ada ya orang mau nyulik bilang-bilang dulu. Stresss lo. Pasti ada sesuatu nih. Heh bebek, cerita..aahh..cerita!” Kian ngerengek.
“gue ga mau ngomong banyak ama lo sekarang di telpon, pokonya gue jemput lo sekarang. Lagian tadi pagi lo ngajak gue jalan kan? Yaudah kita jalan sekarang!! Gausah banyak ba bi bu lagi.” Kali ini Biya sudah tidak mau banyak bicara lagi. Hatinya sudah sangat penat menahan kesal karena harus menunggu.
“iya deeeh iyaaa. Dasar Bebek lo..galak bener! Jemput gue di markas sekarang.oke beb?”
“oke, 5menit lagi gue nyampe”
Biya tak hanya basa-basi. Ia langsung beranjak tancap gas dengan motor matic merahnya. Tak dengan kecepatan yang biasanya. Karena sekarang emosinya lah yang mengambil alih kemudi, hingga membuat kecepatan motornya itu belipat lebih kencang dari biasanya.
###
Tepat 5 menit kemudian Biya tiba di markas. Sebuah ruang berukuran 6x6 yang dindingnya penuh tempelan warna-warni. Hanya Biya dan Kian yang menyebutnya markas. Sebuah ruang besar yang bersebelahan dengan salah satu restaurant milik ayah Kian di Bandung. Dan semenjak mereka memutuskan menjadi sahabat, ruang itu paten menjadi milik Kian, dan tentunya saja Kian menganggap itu adalah milik mereka berdua, Kian dan Biya.
Biya tiba-tiba masuk tanpa salam dan mengetuk pintu..
“ayo, buruan kita cabut!” ajak Biya tiba-tiba dengan wajah kusut, sambil berjalan masuk dan kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa balon sudut ruangan.
“iihh..ni anak ya, bukannya asalamualaikum, malah tiba-tiba ngajak cabut. Muka lo tuh setrika!!”
“Assalamualaikuuuuuuuummmm juragan….” Sahut Biya panjang,
“nah, gitu dong. Jadi bebek babu tuh lo harus sopan dan terhormat.hahahaha..”
“marmot loh..bete gue” Biya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Seperti menahan emosi. Dan lekas ingin menumpahkannya di depan sahabatnya itu.”kesel gue sama Dyos. Tapi gue juga khawatir. Dia dimana ya? Lagi apa ya? Kok telepon gue ga diangkat ya? Sms gue juga ga di bales” Biya begitu memelas. Seprti ingin menangis.
“jiahhh..bukannya itu udah biasa ya buat lo?haha. nyantai aja Biy, paling juga dia lagi sibuk, atau mungkin hapenya ketinggalan di rumah.ntar malem juga pasti dia ngasih kabar”
“tapi masalahnya sore ini dia punya janji. Kita mau jalan. Lusa Dyos udah harus balik lagi ke Surabaya. Terus waktu buat gue kapaaaaann?” Biya menumpahkan ke galauannya. Tiba-tiba airmatanya menetes, membasahi pipinya yang memerah karena emosi. Wajahnya tampak lucu karena tangisannya seperti anak kecil.
“aduh Biyaa..Biyaa. Gue bingung harus ngomong apa. Gue turut berempati sama lo. Tapi ijinin gue buat ketawa dulu sebentar boleh??” Kian menahan tawa
“kok lo malah mau ketawa sih? Part mana yang lucu?” Biya bertanya bingung.
“ coba deh lo ngaca, tangisan lo kali ini lucu bangettt.. kayak keponakan gue kalo nangis gara-gara ga dibeliin mainan di mang o’e-o’e(2.hahahahaha” Kian puas tertawa mengejek tangisan Biya yang memang sangat lucu.
“aaahhh…jahat. Kian jahat…! Mau eskrim aaahh! Ayo beli!” Biya merengek mengusap air  mata sambil setengah menahan tawa. Dia berdiri di depan Kian. Dengan bibir serupa bebek.
“huuu..dasar bebek, mbe jelek…yaudah ayooo cuss..!” Kian mengiyakan ajakan Biya. “kemana? Ciwalk? Lo traktir gue ya..kan lo yang ngajak”
“oke gue yang traktir, kalo sistemnya yang nraktir itu yang ngajak. Tapi seinget gue, tadi pagi lo yang ngajak gue jalan. Jadiii…lo yang traktir gue. Horeeeee….” Biya loncat-loncat kegirangan. Menari-nari seperti komedi putar. Dan Kian, hanya terdiam dengan alis matanya yang terangkat sebelah. Seperti orang bodoh yang sedang berfikir karena bingung.
###

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

nyang lain niihh..